Minuman Khas Korea Selatan: 10 yang Wajib Dicoba Selain Soju

minuman khas korea selatan

Minuman Khas Korea Selatan Tidak Hanya Soju dan Makgeolli

Minuman khas Korea Selatan punya pilihan yang jauh lebih beragam daripada yang sering terlihat di drama Korea. Kalau soju dan makgeolli sudah sangat familiar, Korea sebenarnya memiliki banyak minuman tradisional non-alkohol, teh berbahan buah dan rempah, sampai kreasi modern yang bisa ditemukan di café, restoran, pasar, convenience store, dan tea house.

Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi bagian dari tradisi makan masyarakat Korea. Sikhye, misalnya, merupakan minuman manis berbahan dasar beras dan malt yang biasanya disajikan dingin. Sementara sujeonggwa dikenal sebagai minuman tradisional dengan karakter kayu manis dan jahe.

Korea Tourism Organization memasukkan sikhye dan sujeonggwa dalam kelompok minuman tradisional Korea bersama nokcha atau green tea, yuja-cha, maesil-cha, mogwa-cha, omija-cha, dan saenggang-cha. Minuman-minuman tersebut memiliki karakter rasa dan cara penyajian yang berbeda. Korea Tourism Organization

Menariknya, beberapa minuman tersebut juga masih mudah ditemukan di Seoul. Ada yang tersedia di traditional tea house, ada yang menjadi bagian dari menu restoran, sementara versi kemasannya dapat ditemukan di supermarket dan convenience store.

Jadi, kalau sedang menyusun perjalanan kuliner Korea, jangan hanya memasukkan makanan ke dalam daftar. Minuman juga bisa menjadi cara sederhana untuk mengenal kebiasaan makan, bahan lokal, dan tradisi Korea.

Teh tradisional sebagai bagian dari budaya minuman khas Korea Selatan

1. Sikhye: Minuman Beras Manis yang Sangat Korea

Kalau harus memilih satu minuman tradisional untuk first timer, sikhye layak masuk daftar.

Sikhye atau 식혜 merupakan minuman tradisional berbahan dasar beras dan malt barley. Proses pembuatannya menghasilkan rasa manis dengan aroma malt yang khas. Biasanya terdapat butiran nasi yang mengambang atau mengendap di dalam minuman.

Yang perlu diketahui, meskipun prosesnya menggunakan fermentasi, sikhye yang umum dikonsumsi sebagai minuman tradisional bukanlah minuman beralkohol. Korea.net menjelaskan bahwa sikhye dibuat dari barley malt powder dan beras serta dikenal sebagai chilled rice punch. Minuman ini secara tradisional dinikmati terutama saat musim dingin, meskipun sekarang dikonsumsi sepanjang tahun. Korea.net

Dalam budaya makan Korea, sikhye sering dikaitkan dengan hidangan penutup atau minuman setelah makan. Visit Seoul juga menyebut sikhye sebagai minuman tradisional yang populer saat Chuseok dan dapat ditemukan di berbagai tempat di Seoul, termasuk café dan jjimjilbang.

Rasanya cenderung manis dan ringan, dengan karakter malt yang cukup mudah dikenali. Kalau kamu tidak terbiasa dengan minuman tradisional, sikhye biasanya lebih mudah diterima dibanding beberapa minuman herbal atau teh dengan rasa yang lebih kompleks.

Menariknya, sikhye juga bisa ditemukan dalam versi modern. Seoul Coffee Ikseon Branch, misalnya, memiliki pumpkin sikhye sebagai salah satu menu yang memadukan minuman tradisional dengan konsep café modern. Visit Seoul

2. Sujeonggwa: Kayu Manis, Jahe, dan Kesegaran yang Berbeda

Kalau sikhye memiliki rasa manis dan ringan, sujeonggwa menawarkan pengalaman yang lebih aromatik.

Sujeonggwa atau 수정과 merupakan minuman tradisional yang menggunakan kombinasi kayu manis dan jahe. Minuman ini biasanya memiliki warna cokelat kemerahan dan rasa manis dengan sensasi rempah yang cukup jelas.

Korea Tourism Organization menjelaskan bahwa sujeonggwa dibuat dengan merebus jahe dan kayu manis dalam air yang diberi pemanis, kemudian biasanya disajikan dingin. Korea Tourism Organization

Beberapa penyajian juga menggunakan kesemek kering dan kacang pinus sebagai pelengkap. Kombinasi tersebut membuat teksturnya lebih menarik sekaligus memberikan rasa yang lebih kompleks.

Sujeonggwa sering dianggap sebagai minuman pencuci mulut tradisional. Karakternya juga cocok dengan makanan Korea yang memiliki rasa cukup kuat, sehingga minuman ini dapat menjadi penutup makan yang menyegarkan.

Di Seoul, kamu tidak perlu mencari restoran khusus yang sangat jauh untuk mencobanya. Traditional tea house dan beberapa restoran tradisional masih menyediakannya.

Visit Seoul, misalnya, mencantumkan Banjjakbanjjak Binnaneun di Insadong sebagai fusion teahouse yang menyajikan minuman tradisional seperti sikhye dan sujeonggwa. Lokasinya sekitar 190 meter dari Jongno 3-ga Station dan berada di kawasan yang memang mudah dipadukan dengan wisata budaya. Visit Seoul

3. Yuja-cha: Teh Jeruk Korea yang Segar dan Aromatik

Yuja-cha atau 유자차 merupakan salah satu minuman Korea yang relatif mudah disukai wisatawan Indonesia karena karakter rasanya familiar.

Yuja adalah buah citrus yang memiliki aroma kuat dengan perpaduan rasa manis dan asam. Dalam penyajiannya, buah biasanya diawetkan dengan gula atau madu, kemudian dicampur dengan air panas untuk menghasilkan minuman seperti teh.

Karena menggunakan buah yang sudah diawetkan, yuja-cha memiliki rasa citrus yang lebih kaya dibanding sekadar teh lemon biasa.

Minuman ini sangat menarik diminum saat udara dingin. Ketika musim dingin di Korea, secangkir yuja-cha hangat bisa menjadi pilihan yang sederhana setelah berjalan kaki di luar.

Yuja-cha juga cukup mudah ditemukan dalam bentuk jar atau produk siap seduh. Korea Tourism Organization mencatat bahwa yuja-cha tersedia dalam bentuk glass jar, powder, packet, maupun tea bag. Korea Tourism Organization

4. Omija-cha: Teh dengan Lima Karakter Rasa

Kalau ingin mencoba sesuatu yang lebih unik, cari omija-cha.

Omija berasal dari buah Schisandra chinensis yang dikenal dalam bahasa Korea sebagai omija. Nama tersebut secara harfiah berkaitan dengan konsep “lima rasa”, yaitu pengalaman rasa yang dapat terasa manis, asam, asin, pahit, dan pedas.

Itulah yang membuat omija-cha berbeda dari teh buah biasa. Karakternya lebih kompleks dan dapat disajikan dalam kondisi hangat maupun dingin.

Omija juga sering digunakan dalam berbagai olahan minuman dan dessert Korea. Pada musim panas, versi dinginnya dapat terasa sangat menyegarkan, sedangkan penyajian hangat memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan traditional tea culture.

Untuk traveler yang suka mencoba makanan dan minuman baru, omija-cha termasuk minuman yang menarik karena rasa akhirnya tidak mudah ditebak hanya dari tampilannya.

Minuman hangat di kedai Korea sebagai bagian dari pengalaman kuliner Korea Selatan

5. Nokcha: Green Tea Korea

Nokcha berarti green tea atau teh hijau dalam tradisi minuman Korea.

Dibandingkan beberapa minuman buah dan dessert drink yang manis, nokcha memberikan pengalaman yang lebih sederhana. Rasanya dapat terasa sedikit pahit, segar, dan ringan.

Green tea Korea tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari daun teh, tea bag, hingga bubuk. Korea Tourism Organization juga memasukkan nokcha sebagai salah satu teh tradisional Korea yang paling representatif. Korea Tourism Organization

Nokcha cocok untuk traveler yang tidak terlalu menyukai minuman manis. Kamu bisa menemukannya di tea house tradisional maupun café modern.

Kalau sedang berada di kawasan budaya seperti Insadong atau Bukchon, mencoba teh hijau di traditional tea house bisa memberikan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar membeli bottled tea dari convenience store.

6. Saenggang-cha: Teh Jahe untuk Cuaca Dingin

Saenggang-cha adalah ginger tea Korea.

Minuman ini dibuat menggunakan jahe dan dapat disajikan hangat. Karakter rasanya tentu lebih pedas dan aromatik dibanding yuja-cha.

Saenggang-cha menjadi pilihan menarik ketika suhu sedang rendah. Sensasi jahe memberikan karakter hangat yang cukup kuat, sehingga cocok diminum setelah aktivitas outdoor.

Untuk wisatawan Indonesia, rasanya mungkin cukup familiar karena konsepnya tidak jauh dari minuman berbasis jahe yang juga dikenal dalam budaya Indonesia. Perbedaannya terletak pada bahan pendamping, tingkat kemanisan, serta cara penyajiannya.

7. Maesil-cha: Teh Plum yang Manis dan Asam

Maesil-cha dibuat dari maesil atau Korean green plum yang biasanya diawetkan menggunakan gula atau madu.

Hasilnya adalah minuman dengan rasa manis sekaligus asam yang menyegarkan. Karena bahan dasarnya berupa buah yang diawetkan, minuman ini bisa terasa lebih fruity daripada teh tradisional berbasis daun.

Maesil-cha bisa dinikmati hangat maupun dingin. Versi dinginnya cukup menarik ketika sedang berjalan-jalan di Seoul pada hari yang cerah, sedangkan versi hangat dapat menjadi pilihan ketika cuaca lebih sejuk.

Minuman berbasis maesil juga sering digunakan sebagai bahan dasar berbagai minuman modern Korea, sehingga kamu mungkin menemukannya dalam bentuk yang tidak selalu terlihat seperti traditional tea.

8. Barley Tea atau Boricha: Minuman Sehari-hari yang Sederhana

Boricha atau barley tea merupakan salah satu minuman yang sederhana tetapi cukup penting untuk dikenal wisatawan.

Minuman ini dibuat dari barley yang disangrai kemudian diseduh seperti teh. Rasanya ringan, sedikit nutty, dan tidak memiliki rasa pahit sekuat green tea.

Boricha bisa disajikan panas maupun dingin. Karena karakternya ringan, minuman ini cocok menemani makanan tanpa terlalu mendominasi rasa hidangan.

Kalau kamu menemukan teko atau botol teh berwarna cokelat muda di restoran Korea, ada kemungkinan kamu sedang disajikan barley tea.

Untuk traveler yang tidak terlalu suka minuman manis, boricha bisa menjadi salah satu pilihan paling aman selama makan di Korea.

9. Hwachae: Fruit Punch Korea yang Berwarna-warni

Hwachae adalah kelompok minuman fruit punch tradisional Korea yang menggunakan buah dan bahan lainnya sebagai bagian dari penyajian.

Salah satu variasi yang dikenal adalah subak-hwachae, yang menggunakan semangka sebagai salah satu bahan utama. Potongan buah kemudian dipadukan dengan cairan manis dan es.

Karena menggunakan buah dan disajikan dingin, hwachae sangat cocok dengan suasana musim panas. Versi modernnya juga sering dibuat lebih playful dengan berbagai buah, soda, susu, atau bahan lain.

Namun, perlu diingat bahwa resep hwachae sangat bervariasi. Kalau memiliki pantangan terhadap bahan tertentu, sebaiknya tanyakan komposisinya sebelum memesan.

10. Minuman Modern Korea: Dari Banana Milk sampai Signature Café Drinks

Selain minuman tradisional, Korea Selatan juga memiliki berbagai minuman modern yang sudah menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari.

Salah satu yang paling mudah dikenali adalah banana milk. Minuman susu rasa pisang ini sangat populer dan mudah ditemukan di convenience store. Bentuk botolnya juga sudah menjadi salah satu produk minuman yang cukup identik dengan pengalaman wisata di Korea.

Selain banana milk, kamu juga akan menemukan berbagai flavored milk, sparkling drinks, ade, latte, matcha drinks, serta signature beverage di café.

Inilah bagian menarik dari perkembangan budaya minuman Korea. Tradisi tidak selalu berdiri sendiri. Bahan-bahan yang sudah lama dikenal seperti yuja, omija, pumpkin, red bean, atau grain bisa masuk ke dalam menu café modern.

Contohnya bisa dilihat di Seoul Coffee Ikseon Branch. Selain vienna coffee dan milk tea, café tersebut menawarkan pumpkin sikhye serta dessert yang menggabungkan bahan tradisional dengan konsep modern. Visit Seoul

Di Mana Mencicipi Minuman Tradisional Korea di Seoul?

Kalau tujuanmu memang ingin mencari minuman khas Korea Selatan, lokasi yang dipilih akan sangat menentukan pengalaman.

Untuk traditional tea dan minuman tradisional, kawasan Insadong, Jongno, Bukchon, dan Ikseon-dong merupakan area yang menarik untuk dimasukkan ke itinerary.

Insadong dikenal dengan galeri, toko kerajinan, restoran tradisional, dan tea house. Sementara Bukchon memberikan pengalaman yang lebih kuat dari sisi hanok dan suasana tradisional.

Ikseon-dong menawarkan kombinasi yang berbeda. Kawasan hanok ini dipenuhi café dan restoran modern sehingga kamu bisa menemukan reinterpretasi minuman tradisional dalam suasana yang lebih kekinian.

Jika ingin mencoba minuman tradisional dekat Gyeongbokgung, Seoureseo Duljjaero Jalhaneunjip di Samcheong-dong juga dapat menjadi pilihan. VISITKOREA mencatat bahwa tempat ini menyajikan sujeonggwa, sikhye, dan ssanghwatang selain makanan tradisional seperti danpatjuk. VISITKOREA

Untuk wisatawan yang ingin menggabungkan minuman dengan agenda kuliner yang lebih luas, itinerary kuliner Korea Selatan 7 hari bisa dijadikan referensi dasar untuk menyusun rute.

Minuman Tradisional vs Minuman Modern: Mana yang Sebaiknya Dicoba?

Sebenarnya tidak perlu memilih salah satu.

Kalau memiliki waktu cukup, justru menarik untuk mencoba keduanya dalam satu perjalanan. Misalnya, siang hari mencoba sikhye atau sujeonggwa setelah makan di restoran tradisional, kemudian sore hari masuk ke café modern untuk menikmati latte atau signature drink.

Dengan begitu, kamu bisa melihat bagaimana budaya minuman Korea berkembang dari tradisi menuju gaya hidup modern.

MinumanKarakterPenyajianCocok untuk
SikhyeManis, malty, ringanDinginFirst timer, dessert
SujeonggwaManis, kayu manis, jaheUmumnya dinginPecinta rempah
Yuja-chaManis, citrus, sedikit asamHangat atau dinginPecinta rasa citrus
Omija-chaKompleks, fruity, asamHangat atau dinginYang suka rasa unik
NokchaSegar, sedikit pahitHangat atau dinginPecinta green tea
Saenggang-chaPedas dan aromatikHangatCuaca dingin
Maesil-chaManis dan asamHangat atau dinginPecinta fruit tea
BorichaRingan, roasted, nuttyHangat atau dinginPendamping makanan
HwachaeManis, fruity, menyegarkanDinginMusim panas
Banana milkManis, creamy, fruityDinginMinuman convenience store

Tips Memilih Minuman Korea untuk First Timer

Mulai dari rasa yang familiar

Kalau belum pernah mencoba minuman tradisional Korea, yuja-cha atau banana milk biasanya lebih mudah diterima karena profil rasanya cukup familiar.

Setelah itu, baru lanjutkan ke sikhye, sujeonggwa, atau omija-cha yang memiliki karakter lebih khas.

Perhatikan apakah minumannya beralkohol

Nama minuman Korea tidak selalu mudah dibedakan oleh wisatawan yang baru pertama datang.

Sikhye dan sujeonggwa merupakan pilihan tradisional non-alkohol, sedangkan soju dan makgeolli termasuk minuman beralkohol. Untuk produk modern atau signature drink, tetap periksa komposisi apabila memiliki pantangan tertentu.

Jangan menganggap semua “tea” sama

Istilah tea dalam menu Korea bisa merujuk pada banyak hal. Ada teh yang benar-benar menggunakan daun teh, ada yang menggunakan buah yang diawetkan, rempah, biji-bijian, atau bahan lain.

Karena itu, jangan heran kalau yuja-cha terasa seperti minuman citrus, sedangkan boricha justru memiliki rasa roasted grain.

Gunakan Naver Map untuk mencari tempat

Nama dan jam operasional café atau tea house dapat berubah. Sebelum berangkat, cek lokasi dan informasi terbaru melalui Naver Map atau kanal resmi tempat tersebut.

Untuk tempat yang populer, terutama pada akhir pekan, datang lebih awal juga dapat membantu menghindari antrean.

Perhatikan bahan jika membutuhkan makanan halal

Minuman tradisional yang terlihat sederhana belum tentu selalu memiliki komposisi yang sama di setiap tempat. Signature drink, dessert beverage, topping, whipped cream, atau syrup dapat menggunakan bahan tambahan.

Untuk wisatawan Muslim, pemeriksaan bahan tetap penting. Kamu bisa membaca panduan makanan halal Korea di Seoul sebelum menyusun perjalanan kuliner.

Pengalaman menikmati kopi dan minuman di Korea Selatan

Bagaimana Memasukkan Minuman ke Itinerary Korea?

Minuman sebenarnya tidak membutuhkan satu hari khusus dalam itinerary.

Justru lebih efektif jika minuman dimasukkan sebagai bagian dari rute kuliner dan sightseeing.

Contoh rute Jongno dan Insadong

  • Pagi: Gyeongbokgung Palace.
  • Siang: Makan siang di sekitar Jongno.
  • Sore: Jalan-jalan di Insadong.
  • Coffee atau tea break: Coba sikhye, sujeonggwa, atau traditional tea.
  • Sore–malam: Lanjut Ikseon-dong dan eksplorasi café.

Rute ini cukup efektif karena wisata budaya dan kuliner berada dalam kawasan yang berdekatan.

Contoh rute Ikseon-dong

  • Siang: Eksplorasi hanok village.
  • Siang: Makan siang.
  • Sore: Seoul Coffee Ikseon Branch atau café lain di sekitar kawasan.
  • Sore: Coba pumpkin sikhye atau signature beverage.
  • Malam: Lanjut ke Myeongdong atau area pusat Seoul.

Kalau itinerary-mu sudah memiliki banyak agenda makanan, minuman tradisional dapat menjadi jeda yang ringan tanpa harus menambah satu destinasi besar.

Minuman Korea untuk Traveler Muslim

Banyak minuman khas Korea Selatan non-alkohol yang bisa menjadi pilihan bagi wisatawan Muslim. Sikhye, sujeonggwa, berbagai fruit tea, green tea, barley tea, dan minuman buah dapat ditemukan di berbagai tempat.

Namun, status non-alkohol tidak otomatis berarti seluruh menu aman dari semua bahan yang mungkin ingin dihindari. Signature beverage di café dapat menggunakan syrup, cream, flavoring, atau bahan tambahan lain.

Jika kamu membutuhkan standar halal yang lebih ketat, periksa bahan atau pilih tempat yang memiliki informasi komposisi yang jelas.

Selain minuman, perhatikan juga makanan pendampingnya. Tea house tradisional dapat menyajikan rice cake, pastry, kacang, atau dessert yang komposisinya berbeda-beda.

Untuk perjalanan yang berfokus pada kuliner, kamu juga bisa menggabungkan informasi minuman ini dengan panduan street food Korea sehingga pengalaman makan tidak hanya berputar di restoran.

FAQ Minuman Khas Korea Selatan

Apa minuman khas Korea Selatan selain soju?

Ada banyak pilihan. Beberapa yang paling dikenal adalah sikhye, sujeonggwa, yuja-cha, omija-cha, nokcha, saenggang-cha, maesil-cha, boricha, dan hwachae. Korea juga memiliki berbagai minuman modern seperti banana milk dan signature drinks di café.

Apakah sikhye mengandung alkohol?

Sikhye tradisional yang umum disajikan sebagai sweet rice drink merupakan minuman non-alkohol. Minuman ini dibuat dari beras dan barley malt dan biasanya disajikan dingin.

Apa bedanya sikhye dan sujeonggwa?

Sikhye berbahan dasar beras dan malt dengan rasa manis serta karakter malty. Sujeonggwa menggunakan kayu manis dan jahe sehingga memiliki aroma rempah yang lebih kuat. Keduanya merupakan minuman tradisional Korea non-alkohol.

Minuman Korea apa yang cocok untuk musim dingin?

Yuja-cha dan saenggang-cha cocok diminum hangat ketika cuaca dingin. Traditional tea seperti nokcha juga dapat disajikan panas. Sikhye dan sujeonggwa lebih umum dikenal dalam versi dingin, meskipun bentuk penyajian dapat berbeda.

Di mana bisa mencoba minuman tradisional Korea di Seoul?

Insadong, Jongno, Bukchon, Ikseon-dong, dan Samcheong-dong merupakan beberapa kawasan yang menarik untuk mencari traditional tea house, restoran tradisional, dan café yang menginterpretasikan minuman Korea.

Apakah minuman khas Korea mudah ditemukan?

Beberapa sangat mudah ditemukan. Sikhye dan berbagai teh tradisional tersedia di sejumlah restoran, café, traditional tea house, supermarket, hingga convenience store dalam bentuk kemasan. Minuman yang lebih spesifik mungkin membutuhkan pencarian tempat terlebih dahulu.

Apakah banana milk termasuk minuman tradisional Korea?

Banana milk bukan minuman tradisional seperti sikhye atau sujeonggwa. Namun, minuman tersebut merupakan salah satu produk minuman modern Korea yang sangat mudah ditemukan dan menarik untuk dicoba sebagai bagian dari pengalaman kuliner sehari-hari.

Apakah semua Korean tea menggunakan daun teh?

Tidak. Istilah tea dalam budaya minuman Korea mencakup berbagai minuman berbahan buah, rempah, biji-bijian, dan bahan lainnya. Yuja-cha, misalnya, menggunakan citrus yang diawetkan, sementara boricha dibuat dari barley yang disangrai.

Penutup: Jangan Hanya Kenal Korea dari Soju

Minuman khas Korea Selatan memperlihatkan bahwa pengalaman kuliner di Korea jauh lebih luas daripada soju dan makgeolli.

Sikhye membawa rasa manis dan tradisi berbasis beras. Sujeonggwa memperkenalkan aroma kayu manis dan jahe. Yuja-cha menawarkan rasa citrus yang segar, omija-cha memberikan pengalaman rasa yang lebih kompleks, sementara boricha menunjukkan sisi sederhana dari minuman sehari-hari.

Di sisi lain, café modern terus mengembangkan bahan-bahan tradisional menjadi minuman baru. Pumpkin sikhye, signature tea, fruit ade, latte, dan berbagai kreasi café menunjukkan bagaimana bahan yang sudah lama dikenal bisa mendapatkan bentuk baru.

Karena itu, saat menyusun perjalanan Korea berikutnya, jangan hanya membuat daftar restoran. Sisihkan juga waktu untuk berhenti di sebuah traditional tea house atau café dan mencoba satu minuman yang belum pernah kamu kenal.

Pengalaman tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari secangkir minuman kita bisa melihat bagaimana tradisi, kebiasaan makan, dan gaya hidup modern Korea saling bertemu.

Untuk inspirasi itinerary dan pengalaman kuliner Korea lainnya, ikuti Instagram Howliday dan temukan lebih banyak panduan perjalanan melalui YouTube Howliday.