Dessert Tradisional Korea yang Jarang Diketahui Wisatawan

Lebih dari Sekadar Dessert Kekinian
Dessert tradisional Korea mungkin tidak sepopuler Korean fried chicken, tteokbokki, atau Korean BBQ di kalangan wisatawan Indonesia. Padahal, Korea Selatan punya tradisi makanan manis yang panjang dan sangat beragam, mulai dari kue berbahan beras, camilan yang dilapisi madu, manisan buah, hingga minuman tradisional yang biasanya disajikan setelah makan.
Menariknya, dessert tradisional ini sekarang kembali mendapatkan perhatian. Beberapa makanan yang dahulu lebih identik dengan generasi tua justru diolah kembali dalam bentuk yang lebih modern dan muncul di café, toko dessert, hingga pasar tradisional. VISITKOREA bahkan mencatat bahwa makanan seperti yakgwa dan gaeseongjuak kini mudah ditemukan dalam format yang lebih kekinian.
Tren tersebut membuat pengalaman mencoba dessert Korea menjadi lebih menarik. Wisatawan tidak harus selalu mencari café dengan menu croffle, cake, atau dessert viral. Sesekali, cobalah makanan yang sudah menjadi bagian dari budaya Korea selama ratusan tahun.
Beberapa dessert juga punya hubungan erat dengan musim dan perayaan tertentu. Songpyeon, misalnya, sangat identik dengan Chuseok, sementara hangwa secara tradisional banyak hadir dalam berbagai perayaan dan acara penting. Ada pula dessert yang bisa ditemukan sepanjang tahun di pasar tradisional, toko khusus, dan café bergaya hanok.
Berikut beberapa dessert tradisional yang layak masuk daftar kuliner saat liburan ke Korea Selatan.
Apa Bedanya Dessert Tradisional dan Modern Korea?
Sebelum membahas satu per satu, ada baiknya memahami bahwa istilah dessert Korea cukup luas.
Dalam tradisi Korea, makanan manis tidak selalu berupa cake atau pastry seperti yang biasa ditemukan di negara-negara Barat. Tteok atau rice cake, misalnya, memiliki ratusan variasi. Ada yang dibuat dengan cara dikukus, direbus, ditumbuk, atau dibentuk dari tepung beras.
Sementara itu, hangwa mengacu pada kelompok makanan manis tradisional Korea. Beberapa jenisnya dibuat menggunakan tepung, madu, sirup biji-bijian, beras, kacang, atau wijen. Yakgwa, yugwa, gangjeong, dasik, dan jeonggwa termasuk dalam kelompok ini.
Karakter dessert tradisional Korea juga cenderung berbeda dari dessert modern. Rasanya sering kali lebih subtle, tidak terlalu manis, dan banyak menggunakan bahan alami seperti beras, madu, kacang, biji-bijian, buah, serta rempah.
VISITKOREA menjelaskan bahwa dessert dan minuman tradisional Korea dikenal dengan tampilan yang rapi, warna yang menarik, rasa manis yang relatif lembut, serta penggunaan bahan-bahan seperti rice cake, hangwa, dan teh tradisional.
Inilah alasan mengapa pengalaman mencoba dessert tradisional bisa terasa berbeda dari café hopping biasa.
Yakgwa: Kue Madu Tradisional Korea
Kalau harus memilih satu dessert tradisional yang sedang kembali populer di Korea, yakgwa adalah salah satu nama yang paling menarik.
Yakgwa merupakan kue tradisional yang dibuat dari adonan tepung, minyak wijen, madu, dan bahan lainnya. Adonan dibentuk menggunakan cetakan kemudian digoreng dan dilapisi madu atau sirup.
Teksturnya khas. Bagian luarnya dapat terasa sedikit padat atau renyah, sementara bagian dalamnya memiliki sensasi lebih lembut dan lengket karena sirup yang meresap.
Secara historis, yakgwa bukan sekadar camilan biasa. VISITKOREA menjelaskan bahwa yakgwa sudah dikenal sejak lama dan dahulu menggunakan madu sebagai pemanis yang bernilai tinggi. Nama yakgwa sendiri secara harfiah berkaitan dengan “confection” atau makanan manis yang memiliki kaitan dengan konsep obat atau kesehatan.
Yang membuatnya semakin menarik untuk wisatawan masa kini adalah kebangkitannya di kalangan generasi muda Korea.
VISITKOREA pernah mencatat fenomena yaketing, istilah yang menggabungkan yakgwa dan ticketing, untuk menggambarkan persaingan mendapatkan yakgwa populer dari toko tertentu. Yakgwa kemudian muncul dalam berbagai bentuk modern seperti yakgwa cookie, yakgwa financier, hingga yakgwa ice cream.
Di mana bisa mencoba yakgwa?
Yakgwa dapat ditemukan di toko tradisional, pasar, department store, café bergaya hanok, hingga toko dessert modern.
Untuk pengalaman yang lebih tradisional, area Insadong bisa menjadi pilihan menarik karena banyak toko yang menjual hangwa dan makanan tradisional. VISITKOREA juga mencantumkan Hangwamiuisik Annyeong Insadong Branch sebagai salah satu tempat yang menawarkan berbagai hangwa tradisional.
Kalau ingin melihat bagaimana makanan tradisional dikemas dalam format modern, cari café yang menggunakan yakgwa sebagai topping atau bahan dessert.
Songpyeon: Kue Beras Khas Chuseok
Berbeda dengan yakgwa yang bisa ditemukan sepanjang tahun, songpyeon memiliki hubungan yang jauh lebih kuat dengan kalender tradisional Korea.
Songpyeon merupakan rice cake berbentuk setengah bulan yang sangat identik dengan Chuseok, salah satu hari raya terpenting di Korea Selatan.
Adonannya dibuat dari tepung beras dan biasanya diisi dengan bahan seperti wijen, kacang, chestnut, atau kacang merah. Setelah dibentuk, songpyeon dikukus bersama daun pinus yang memberikan aroma khas.
Yang menarik bukan hanya bentuk dan rasanya, tetapi proses pembuatannya. Secara tradisional, keluarga Korea berkumpul untuk membuat songpyeon bersama menjelang Chuseok. Karena itu, makanan ini juga memiliki nilai sosial dan keluarga yang kuat.
VISITKOREA menyebut songpyeon sebagai salah satu makanan yang paling merepresentasikan Chuseok dan menjelaskan bahwa proses pembuatannya secara tradisional melibatkan seluruh keluarga.
Untuk wisatawan yang berkunjung sekitar periode Chuseok, mencari songpyeon bisa menjadi cara sederhana untuk memahami bagaimana makanan berkaitan dengan perayaan tradisional Korea.
Seperti apa rasa songpyeon?
Jangan membayangkan songpyeon seperti mochi Jepang yang sangat manis. Teksturnya memang kenyal, tetapi tingkat kemanisannya dapat lebih ringan.
Isiannya juga menentukan karakter rasa. Wijen memberikan rasa gurih dan nutty, sementara kacang atau chestnut dapat menghasilkan rasa yang lebih creamy dan earthy.
Untuk mencoba berbagai jenis rice cake, Nakwon Rice Cake Alley di Jongno merupakan salah satu area yang menarik. VISITKOREA mencatat bahwa kawasan tersebut memiliki sejarah hampir satu abad dan menjual berbagai jenis tteok, termasuk songpyeon, yakgwa, gyeongdan, dan rainbow rice cake.
Sujeonggwa: Minuman Manis Tradisional Korea
Kalau dessert menurut kamu harus selalu berupa makanan yang bisa digigit, sujeonggwa mungkin akan sedikit berbeda.
Sujeonggwa merupakan minuman tradisional Korea yang dibuat menggunakan kayu manis dan jahe, kemudian diberi rasa manis. Minuman ini biasanya disajikan dingin dan dapat diberi garnish berupa dried persimmon atau kacang pinus.
Rasanya cukup khas karena ada perpaduan manis, aroma kayu manis, dan sensasi hangat dari jahe. Dibanding minuman café modern yang manis dan creamy, karakter sujeonggwa jauh lebih herbal dan aromatic.
VISITKOREA memasukkan sujeonggwa bersama sikhye sebagai dua minuman tradisional Korea yang paling terkenal.
Minuman ini cocok dicoba setelah makan makanan Korea yang cukup berat. Di restoran tradisional, sujeonggwa terkadang hadir sebagai minuman penutup.
Sujeonggwa cocok diminum saat musim apa?
Sebenarnya bisa dinikmati sepanjang tahun. Namun, karakter kayu manis dan jahe membuatnya terasa sangat cocok ketika udara mulai sejuk.
Jika kamu berkunjung saat autumn atau winter, jangan lewatkan kesempatan mencoba minuman tradisional ini setelah makan di restoran Korea atau saat mengunjungi tea house.
Hangwa: Camilan Manis Warisan Korea
Hangwa sebenarnya bukan satu jenis dessert. Istilah ini mencakup kelompok besar makanan manis tradisional Korea dengan bahan dan teknik pembuatan yang berbeda.
Di dalam kelompok hangwa terdapat beberapa nama yang mungkin belum familiar bagi wisatawan Indonesia, seperti yugwa, yakgwa, dasik, gangjeong, dan jeonggwa.
Yugwa dibuat dari adonan beras ketan yang melalui proses pengukusan, pengeringan, penggorengan, lalu dilapisi sirup. Hasil akhirnya memiliki tekstur ringan, mengembang, dan renyah.
Gangjeong biasanya memiliki tekstur lebih crunchy karena dibuat dari bahan seperti beras, kacang, atau biji-bijian yang kemudian dilapisi sirup.
Dasik memiliki bentuk yang lebih kecil dan rapi. Biasanya makanan ini dibuat dari campuran bubuk biji-bijian atau bahan lain yang dicetak menggunakan cetakan tradisional.
VISITKOREA mencatat bahwa museum hangwa di Korea menampilkan berbagai jenis traditional sweets termasuk yakgwa, yugwa, yumilgwa, jeongwa, dasik, dan gangjeong.
Kenapa hangwa menarik sebagai oleh-oleh?
Selain bisa dimakan langsung, hangwa sering dijual dalam kemasan yang rapi sehingga cukup populer sebagai hadiah.
Menurut informasi Korea Tourism Organization, hangwa dapat ditemukan di berbagai tempat seperti pasar tradisional, department store, dan toko oleh-oleh.
Namun, perhatikan daya tahan produknya. Tidak semua dessert tradisional memiliki umur simpan yang sama. Jika ingin membawanya pulang ke Indonesia, cek tanggal kedaluwarsa dan instruksi penyimpanan sebelum membeli.
Jeonggwa dan Dasik: Dessert yang Lebih Elegan
Jika yakgwa terlihat seperti kue dan songpyeon seperti rice cake, jeonggwa memiliki karakter yang cukup berbeda.
Jeonggwa merupakan jenis manisan tradisional Korea yang dibuat dengan memasak bahan seperti buah, akar, atau bahan tanaman dalam sirup sampai menghasilkan tekstur dan rasa yang khas.
Sementara itu, dasik lebih menyerupai bite-sized confection yang dicetak dengan bentuk dekoratif.
Dasik secara tradisional sering dikaitkan dengan tea culture. Ukurannya kecil sehingga biasanya disantap bersama teh, bukan sebagai dessert besar setelah makan.
Inilah salah satu perbedaan menarik antara dessert Korea tradisional dan dessert modern. Porsi kecil dan rasa yang lebih ringan justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati teh dan percakapan.
Tempat Terbaik Mencicipi Dessert Tradisional Korea
Kalau tujuanmu memang ingin mencari dessert tradisional, tidak perlu membatasi pencarian hanya di café dessert modern.
Insadong
Insadong adalah salah satu kawasan yang paling mudah dimasukkan ke itinerary first timer. Kawasan ini dikenal dengan toko kerajinan, galeri, tea house, dan berbagai produk tradisional.
Karena karakter kawasan tersebut, mencari hangwa, traditional tea, yakgwa, dan rice cake relatif lebih mudah.
Area ini juga cocok digabungkan dengan kunjungan ke Gyeongbokgung, Bukchon Hanok Village, atau Ikseon-dong.
Nakwon Rice Cake Alley
Untuk wisatawan yang ingin fokus pada tteok, Nakwon Rice Cake Alley di Jongno menarik untuk dimasukkan ke rute kuliner.
Selain songpyeon, area ini memiliki berbagai jenis rice cake dengan warna, bentuk, tekstur, dan isian berbeda.
Jika kamu ingin menjelajahi kuliner Korea lebih luas, artikel itinerary kuliner Korea Selatan bisa dijadikan referensi untuk menyusun rute yang menggabungkan Seoul dan destinasi kuliner lainnya.
Traditional Tea House
Tea house tradisional bisa menjadi pilihan kalau kamu ingin mencoba dessert dengan suasana yang lebih tenang.
Biasanya dessert berukuran kecil akan disajikan bersama teh atau minuman tradisional. Kombinasi ini membuat pengalaman terasa lebih dekat dengan budaya tea culture Korea daripada sekadar café hopping.
Gwangjang Market dan Pasar Tradisional
Pasar tradisional juga menjadi tempat yang praktis untuk mencari camilan. Namun, pilihan yang tersedia bisa berbeda antara satu pasar dan lainnya.
Jangan hanya mengejar toko yang sedang viral. Berkeliling beberapa kios sering kali justru memberikan pengalaman kuliner yang lebih menarik.
HanGwa Culture Museum Hangaone
Jika kamu ingin memahami hangwa lebih jauh, HanGwa Culture Museum Hangaone di Pocheon bisa menjadi pilihan untuk pengalaman yang lebih edukatif.
Menurut VISITKOREA, museum ini merupakan museum yang berfokus pada traditional Korean sweets dan menampilkan sejarah, alat pembuatan, serta berbagai jenis hangwa. Pusat edukasinya juga menawarkan program hands-on membuat hangwa dan belajar tentang traditional tea culture.
Lokasinya memang berada di Pocheon, sehingga lebih cocok dimasukkan ke itinerary khusus daripada kunjungan spontan dari pusat Seoul.
Waktu Terbaik Mencoba Dessert Tradisional Korea
Berbeda dengan makanan musiman seperti strawberry dessert atau chestnut dessert di café modern, sebagian besar dessert tradisional dapat ditemukan sepanjang tahun.
Namun, beberapa makanan memiliki kaitan erat dengan kalender tradisional.
- Chuseok: periode yang sangat relevan untuk mencoba songpyeon dan berbagai makanan perayaan.
- Seollal: berbagai hangwa dan makanan tradisional hadir dalam suasana perayaan Tahun Baru Korea.
- Autumn: cocok untuk mengeksplorasi dessert berbahan chestnut, persimmon, dan makanan musiman lainnya.
- Winter: hangwa dan minuman tradisional seperti sujeonggwa cocok dinikmati bersama tea house experience.
Kalau kamu berkunjung pada musim gugur, pengalaman kuliner bisa sekaligus menjadi bagian dari itinerary seasonal. Untuk inspirasi lebih lengkap, kamu bisa melihat panduan kuliner Korea musim gugur.
Tips Menikmati Dessert Tradisional Korea
Jangan berharap semua dessert terasa sangat manis
Ini mungkin menjadi penyesuaian pertama bagi wisatawan Indonesia. Banyak dessert tradisional Korea memiliki rasa manis yang lebih subtle dibanding cake atau dessert café modern.
Perhatikan tekstur
Jika belum pernah mencoba tteok, jangan kaget dengan teksturnya yang kenyal. Jenis rice cake juga sangat beragam sehingga pengalaman mencoba satu jenis tidak selalu menggambarkan semuanya.
Coba bersama teh atau minuman tradisional
Hangwa dan rice cake sering kali lebih menarik ketika dinikmati bersama teh tradisional. Kamu bisa mencoba kombinasi dengan sikhye atau sujeonggwa untuk pengalaman yang lebih khas Korea.
Belanja untuk oleh-oleh dengan cermat
Jika membeli dessert untuk dibawa pulang, perhatikan tanggal kedaluwarsa, bahan, serta kebutuhan penyimpanan. Produk kemasan dari department store atau supermarket biasanya lebih mudah untuk dicek informasinya.
Untuk Muslim traveler, cek komposisi
Tidak semua dessert tradisional otomatis halal hanya karena terbuat dari beras atau madu. Beberapa produk dapat menggunakan bahan tambahan yang perlu diperiksa.
Jika kamu membutuhkan pilihan yang lebih aman, jangan hanya bertanya apakah sebuah makanan mengandung pork. Periksa juga bahan tambahan, alkohol, serta proses pembuatannya.
Untuk referensi yang lebih luas, kamu juga bisa membaca panduan makanan halal Korea di Seoul.
FAQ Dessert Tradisional Korea
Apa dessert tradisional Korea yang paling terkenal?
Yakgwa, songpyeon, dan berbagai jenis hangwa termasuk dessert tradisional yang paling dikenal. Selain itu, tteok seperti injeolmi dan berbagai rice cake juga merupakan bagian penting dari tradisi makanan manis Korea.
Apakah yakgwa rasanya sangat manis?
Yakgwa memiliki rasa manis dari madu atau sirup, tetapi karakter rasanya juga dipengaruhi minyak wijen dan proses penggorengan. Teksturnya dapat terasa lebih padat dibanding cookie modern.
Apa itu songpyeon?
Songpyeon adalah rice cake berbentuk setengah bulan yang sangat identik dengan Chuseok. Isinya dapat berupa wijen, kacang, chestnut, atau bahan lainnya dan biasanya dikukus bersama daun pinus.
Apa perbedaan hangwa dan tteok?
Hangwa merupakan kelompok traditional Korean sweets yang mencakup berbagai jenis confectionery seperti yakgwa, yugwa, dasik, dan gangjeong. Sementara tteok pada dasarnya merujuk pada berbagai jenis rice cake Korea.
Di mana bisa membeli dessert tradisional Korea di Seoul?
Insadong, pasar tradisional, toko khusus hangwa, tea house, department store, dan beberapa café tradisional merupakan tempat yang dapat dicari. Nakwon Rice Cake Alley di Jongno juga menarik untuk wisatawan yang ingin mengeksplorasi berbagai jenis tteok.
Apakah dessert tradisional Korea cocok untuk oleh-oleh?
Beberapa jenis hangwa sangat cocok dijadikan oleh-oleh karena tersedia dalam kemasan. Namun, selalu cek tanggal kedaluwarsa, komposisi, dan instruksi penyimpanan sebelum membeli.
Apakah dessert tradisional Korea halal?
Tidak semuanya bisa langsung dianggap halal. Walaupun bahan utamanya terlihat sederhana, produk tertentu dapat menggunakan bahan tambahan yang perlu diperiksa. Wisatawan Muslim sebaiknya mengecek komposisi dan status produk sebelum membeli.
Kapan waktu terbaik mencoba songpyeon?
Songpyeon paling erat kaitannya dengan Chuseok, sehingga periode sekitar perayaan tersebut menjadi waktu yang menarik untuk mencari pengalaman kuliner ini. Ketersediaannya di luar periode tersebut dapat berbeda-beda menurut toko dan daerah.
Menikmati Korea Lewat Dessert yang Lebih Tradisional
Dessert tradisional Korea menawarkan cara yang berbeda untuk mengenal Korea Selatan. Di balik makanan kecil seperti yakgwa, songpyeon, atau dasik terdapat cerita tentang perayaan, musim, keluarga, tea culture, dan cara masyarakat Korea menikmati makanan.
Kalau selama ini itinerary Korea kamu lebih banyak diisi café hopping, shopping, palace, dan street food, coba sisihkan sedikit waktu untuk mencari dessert tradisional. Pengalamannya tidak harus dibuat rumit. Berjalan di Insadong, masuk ke traditional tea house, membeli beberapa hangwa, lalu mencoba satu atau dua jenis tteok sudah cukup untuk memberikan perspektif berbeda tentang kuliner Korea.
Dan justru karena dessert seperti ini tidak selalu menjadi menu pertama yang dicari wisatawan, pengalaman mencobanya bisa terasa lebih personal. Kamu bukan hanya mengikuti makanan yang sedang viral, tetapi juga mengenal bagian dari budaya Korea yang sudah ada jauh sebelum tren café modern.
Untuk inspirasi perjalanan Korea lainnya, ikuti Instagram Howliday dan temukan referensi perjalanan dalam format video melalui YouTube Howliday.